Terpilihnya BPK RI sebagai First Vice Chair INTOSAI bukan sekadar kemenangan diplomasi; ini adalah perjudian eksistensial. Di satu sisi, Indonesia memegang palu hakim audit dunia. Di sisi lain, BPK sedang berdiri di atas retakan integritas domestik yang menganga.
Jika posisi prestisius ini tidak diikuti dengan keberanian "membakar" tangan para elit yang merampok APBN, maka jabatan internasional ini hanyalah kosmetik birokrasi paling mahal dalam sejarah bangsa.
Audit sebagai Alat Penundukan
Secara radikal, kita harus membongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai audit menggunakan lima lensa kritis:
• Audit Society (Michael Power): BPK berisiko terjebak dalam "Ritual Verifikasi". Standar global ISSAI hanya dijadikan tameng untuk membuat segala penyimpangan terlihat auditable (terukur di atas kertas) namun busuk di lapangan.
• Symbolic Violence (Bourdieu): Predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) seringkali menjadi "Kekerasan Simbolik" untuk membungkam kritik rakyat. Dengan label "Standar Dunia", BPK bisa mematikan nalar kritis publik: "Bagaimana mungkin ada korupsi jika auditor pemimpin dunia mengatakan ini wajar?"
• Panopticon Digital (Foucault): Teknologi Big Data dan AI yang dibawa dari INTOSAI jangan sampai hanya menjadi "Mata Tuhan" untuk mengintip kesalahan administratif desa, sementara gajah-gajah korporasi di proyek strategis dibiarkan buta warna.
• Deconstruction (Derrida): Kita harus mendekonstruksi teks laporan BPK. Di balik kalimat "sesuai standar", seringkali terdapat absennya keberanian untuk menyebut nama aktor intelektual di balik kebocoran anggaran.
• The Capture Theory (Stigler): Inilah ketakutan terbesar—ketika BPK "ditangkap" oleh kepentingan elit. Jabatan internasional ini bisa menjadi "Paspor Legitimasi" bagi kebijakan predatoris agar terlihat kredibel di mata investor global.
Menelanjangi "Pork Barrel" Bansos & Oligarki IKN
Jika BPK benar-benar ingin menjadi "Polisi Audit Dunia", mereka harus berhenti menjadi akuntan yang sekadar menghitung struk belanja, dan mulai menjadi forensik kekuasaan.
1. Bansos: Bukan Sekadar Logistik, Tapi Suap Struktural
Dalam kasus Bansos, BPK harus menggunakan Audit Kinerja Radikal. Jangan hanya tanya "Apakah berasnya sampai?", tapi tanya: "Mengapa beras itu sampai tepat saat baliho politik berkibar?"
BPK harus berani mengaudit "Algoritma Politik" di balik penyaluran Bansos. Jika penyaluran dana publik dipolitisasi untuk memenangkan dinasti atau kelompok tertentu, maka BPK wajib menyatakan itu sebagai Kerugian Negara secara Substansial, bukan sekadar kesalahan administratif. Tanpa keberanian ini, BPK hanyalah stempel legalitas bagi "politik gentong babi".
2. IKN: Audit Forensik atas "Arsitektur Oligarki"
Di proyek IKN, BPK memegang instrumen Value for Money. Namun secara ekstrem, BPK harus melakukan Audit Investigatif terhadap Beneficial Ownership. Siapa sebenarnya pemilik vendor di balik proyek raksasa tersebut? Apakah standar dunia yang mereka banggakan mampu melacak aliran uang hingga ke kantong para pembuat kebijakan yang merangkap pengusaha? Jika tidak, IKN hanya akan menjadi monumen inefisiensi yang dipoles oleh laporan audit yang "Wangi".
Menjadi Algojo atau Menjadi Badut?
Dunia internasional tidak butuh BPK yang pandai berpidato di Wina atau New York. Rakyat Indonesia butuh BPK yang ditakuti oleh para menteri dan penguasa. > "Jika di bawah kepemimpinan internasional ini, korupsi Bansos masih dianggap 'khilaf prosedur' dan proyek IKN tetap menjadi bancakan oligarki, maka BPK RI tak lebih dari sekadar Jasa Laundry Global—tempat di mana uang kotor dan kebijakan busuk dicuci bersih menggunakan deterjen bernama 'Standar Audit Internasional'."
BPK harus memilih: Menjadi Algojo yang memenggal tangan-tangan serakah, atau menjadi Badut yang menghibur dunia dengan piagam penghargaan sementara rakyatnya mati kelaparan di atas tumpukan laporan WTP.
Jakarta, 16 Februari 2026
Penulis : Singgih [Direktur Elsam Lampung]
